Sabtu, 23 Oktober 2010

Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah

Pada tanggal 12 Rabiul awal
tahun gajah atau tanggal 20 April
571 Masehi yang lalu telah lahir
seorang manusia yang menjadi
Rahmatan Lil Alamin dan
menyandang derajat keterpujian
yang tidak terukur ketinggian dan
kesempurnaannya serta kelak
membawa perubahan besar bagi
sejarah peradaban dunia. Manusia
tersebut adalah Ahmad yang
kemudian menyandang nilai-nilai
Ke-Muhammad-an yang sangat
tinggi sehingga beliau berhak
menyandang gelar Muhammad
yaitu yang sangat terpuji dan
selalu dipuja dan dipuji, yang
menjadi Rahmatan Lil Alamin dan
Uswatun Hasanah bagi seluruh
makhluk yang ada di alam
semesta Raya ini.
Kata Muhammad apabila kita
renungkan lebih dalam lagi dapat
diartikan secara lahiriah maupun
secara batiniah, yaitu :
Pertama, Muhammad secara
lahiriah adalah menunjuk kepada
satu sosok seorang manusia biasa
yang mempunyai sifat terpuji dan
diutus oleh Allah untuk
menyampaikan seruan atau ajaran
Tauhid kepada seluruh umat
manusia.
Katakanlah : “sesungguhnya aku
ini hanya seorang manusia biasa
seperti kamu, yang diwahyukan
kepadaku bahwa sesungguhnya
Tuhan kamu itu adalah Tuhan
yang Maha Esa ….” (QS Al Kahfi
18 : 110).
Sebagai manusia biasa,
Muhammad merupakan
prothotype manusia sempurna
yang patut menjadi Uswatun
Hasanah bagi seluruh umat
manusia. Sebutan “Manusia
Sempurna” sering disalahartikan
oleh sebagian besar umat Islam,
yakni Manusia sempurna adalah
sosok manusia yang serba bisa,
serba tahu, serba baik dan lain
sebagainya. Padahal jika kita kaji
dan renungkan kembali hakikat
dari istilah “Sempurna” itu,
mempunyai unsur keseimbangan,
kesepadanan, kesesuaian dan
keharmonisan dalam hal apapun.
Dalam kajian Tauhid,
kesempurnaan yang paling
sempurna pada hakikatnya adalah
Allah SWT itu sendiri. Apa yang
diciptakan Allah di alam semesta
ini merupakan ciptaan yang Maha
Sempurna dan tidak ada yang sia-
sia, sesuai dengan firman-Nya :
“Yang telah menciptakan tujuh
langit berlapis-lapis, kamu sekali-
kali tidak melihat pada ciptaan
Tuhan yang Maha Pemurah,
sesuatu yang tidak seimbang.
Maka lihatlah berulang-ulang
adakah kamu melihat sesuatu
yang tidak seimbang”?. (QS Al
Mulk 67 : 3).
“Dan Kami tidak menciptakan
langit dan bumi dan apa yang ada
diantara keduanya tanpa hikmah.
Yang demikian itu adalah anggapa
orang-orang kafir, maka celakalah
orang-orang kafir itu karena
mereka akan masuk neraka ” (QS
Shad 38 : 27).
“…Ya Tuhan kami, tidaklah
Engkau ciptakan semua ini dengan
sia-sia, maha Suci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksa
neraka ” (QS Ali Imran 3 : 191).
Berdasarkan firman tersebut
dapat diambil suatu pengertian
bahwa apa yang terjadi dan apa
yang dicipta di alam semesta ini
adalah suatu kesempurnaan yang
tidak sia-sia, baik sifat maupun
bentuknya. Misalnya seperti : baik-
buruk, indah-jelek, terpuji-tercela,
siang-malam, panas-dingin,
panjang-pendek, siang-malam,
pria-wanita, besar-kecil dan
sebagainya. Jadi suatu
kesempurnaan adalah satu
keseimbangan antara dua sifat
atau unsure yang dikotomis atau
bertolak belakang, sebab apabila
hanya ada satu sifat saja atau ada
baik saja, atau ada siang saja, atau
ada dingin saja, hal itu bukanlah
suatu yang dapat disebut
sempurna.
Dengan dalih bahwa kita tidak
akan sanggup mencapai derajat
sempurna seperti Nabi
Muhammad, banyak umat Islam
merasa tidak perlu mencontoh
semua apa yang telah diteladani
oleh Nabi Muhammad SAW,
terutama peristiwa Isra ’ dan
Mi’raj-nya beliau. Padahal
sebagai Guru Besar bidang Tauhid
Islam, beliau akan senang apabila
seluruh umatnya dapat
mencontoh semua teladannya.,
baik lahir maupun batin, bahkan
beliau akan lebih senang lagi
apabila ada umatnya yang dapat
melebihi beliau.
Di dalam Al Qur’an telah
diterangkan bahwa Muhammad
SAW adalah contoh yang paling
baik bagi umat manusia yang
menghendaki perjumpaan dengan
Allah ketika kita masih hidup di
atas dunia. Hal ini sesuai dengan
firman Allah ;
“Sesungguhnya telah ada pada
diri Rasulullah itu suri tauladan
yang baik bagi kamu, yaitu bagi
orang-orang yang mengharapkan
menemui Allah dan Hari Akhir dan
mengingat Allah sebanyak-
banyak ” (QS Al Ahzab 33 : 21).
Sebagian ahli tafsir, banyak yang
menterjemahkan ayat tersebut
dengan iftiro atau menambah-
nambahkan ayat tersebut dengan
kata “mengharapkan rahmat
Allah”, padahal bunyi
sebenarnya adalah “Laqod kaana
lakum fii Rasulillahi uswatu
hasanatun liman kaana
yaarjullohu walyaumil
akhirawadzakarooloha
kasyiron ”.
Dalam ayat tersebut terdapat kata
“ yarjulloha” yang berarti
mengharap Allah. Jadi bukan
mengharapkan rahmat Allah atau
mengharapkan ridha Allah, atau
mengharapkan pahala Allah, atau
mengharapkan rezeki Allah, tetapi
yang benar adalah mengharapkan
Allah semata. Bahkan kalau boleh
dipertegas lagi ayat tersebut
bermakna : “Sesungguhnya
telah ada pada diri Rasulullah itu
suri tauladan yang paling baik bai
kamu, yaitu bagi orang yang
mengharapkan menemui Allah
dan hari akhir dan banyak
mengingat Allah ”. Berdasarkan
ayat tersebut, dapat disimpulkan
bahwa Rasulullah adalah contoh
yang paling baik bagi umat
manusia yang ingin
mengharapkan bertemu dengan
Allah di dunia ini, dan juga
bertemu dengan hari akhir, agar
kita dapat mengingat Allah
sebanyak-banyaknya. Sebab
mustahil kita dapat mengingat
Allah apabila kita belum pernah
bertemu dan melihat Allah.
Kedua, Muhammad secara
batiniah adalah suatu anasir Yang
Bersifat Terpuji, yang telah
dimiliki oleh setiap manusia tanpa
kecuali. Tetapi yang sangat
disayangkan adalah bahwa tidak
semua umat manusia yang
menyadari keberadaan anasir
tersebut, apalagi
menumbuhkannya dalam
kehidupan sehari-harinya.
Sehingga tidaklah mengherankan
apabila banyak orang yang
mengaku umat Muhammad atau
umat yang sangat terpuji, justru
banyak melakukan perbuatan
tercela. Hal ini diakibatkan karena
mereka belum dapat meneyerap
Muhammad dalam arti nilai-nilai
keterpujian, di setiap aktivitas
hidupnya dalam bermasyarakat.
Padahal setiap harinya mereka
selalu mengatakan : “Aku telah
menyaksikan bahwa tiada Tuhan
kecuali Allah dan aku telah
menyaksikan bahwa Muhammad
adalah Utusan Allah ”. Kalimat
Syahadat tersebut mempunyai
makna yang sangat dalam sekali,
yaitu saksinya seorang pesaksi
yang menyaksikan kepada siapa
dia bersaksi. Secara hakikat,
makna simbolis dari “wa
asyhadu an la Muhammad
Rasulullah ” adalah sebuah
pengakuan bahwa setiap diri telah
ditempati oleh anasir Terpuji yaitu
Nur Muhammad, yang harus
diimani dan diikuti sesuai dengan
firman Allah dalam Al Qur ’an
dan juga sabda Nabi Muhammad
SAW :
“Dan ketahuilah bahwa
sesungguhnya di dalam dirimu
ada Rasulullah …” (QS Al Hujurot
49 : 7).
Katakanlah : “Jika kamu benar-
benar mencintai Allah, ikutilah
aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu ” QS
Ali Imran 3 : 31).
“Muhammad itu sekali-kalilah
bukanlah bapak dari seorang laki-
laki di antara kamu tetapi dia
adalah Rasul Allah dan penutup
Nabi-Nabi. Dan sesungguhnya
Allah adalah Maha Mengetahui
segalanya ” (QS Al Ahzab 33 : 40).
“Orang-orang yang telah kami
beri Al Kitab, mengenal
Muhammad seperti mereka
mengenal anak-anaknya sendiri.
Dan sesungguhnya sebahagian di
antara mereka menyembunyikan
kebenaran, padahal mereka
mengetahuinya” (QS Al Baqarah
2 : 146).
“Ana ahmad bi la mim, wa ana
‘arabbi bi la ‘ain, wa man
roaini, innaroaitul haq” Aku
ahmad tanpa huruf mim dan aku
adalah ‘arabbi tanpa huruf
‘ain, barang siapa melihat aku,
sesungguhnya telah melihat Sang
Maha Benar ” (Hadits).
“Yang pertama kali diciptakan
oleh Allah SWT adalah Cahaya-ku,
wahai Jabir (HR Ibnu jabir).
“ Siapa saja yang mengatakan
Muhammad Rasulullah telah mati,
akan saya bunuh !” (Umar bin
Khatab)
“Siapa yang menyembah
Muhammad bin Abdullah, beliau
telah mati. Siapa yang
menyembah Wajah Allah, Dia-lah
Yang Maha Abadi ” (Abu Bakr Ash
Shidiq)
“Dan janganlah kamu anggap
mati orang-orang mati di Jalan
Allah, bahkan mereka itu hidup di
sisi Tuhannya dan diberi
Rezeki ” (QS 3 : 169)
“Aku adalah Ahmad tanpa huruf
mim. Aku adalah ‘Arabbi tanpa
huruf ‘ain. Barang siapa melihat
aku, sesungguhnya ia telah
melihat Al Haqq ” (Hadits)
“Sebuah makam dan kubah dan
menara kecil tidaklah
menyenangkan bagi para
pengikut Yang Maha Besar.
“Makammu bukanlah diperindah
oleh batu, kayu dan plesteran.
Bukan, bukan itu, melainkan
dengan menggali makam untuk
dirimu sendiri dalam kesucian
ruhani dan menguburkan egoisme
dirimu dalam Egoisme-Nya.
Dan menjadi debu-Nya dan
terkubur dalam Cinta-Nya,
sehingga Nafas-Nya dapat
memenuhi dan menghidupimu”
(Jalaluddin Ar Rumi)
“Ya Nabi Salam ‘alaika. Ya
Rasul Salam ‘alaika. Anta
Syamsun, anta Badrun, anata
Nuurun fauqo Nuurin !”
sumber
Ditulis oleh Worksite Pelita Hati

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar